Astagfirullah...
Begitulah sifat hawa nafsu, semakin dituruti semakin memburu. Setidaknya hal tersebut terjadi akhir-akhir ini. Ketika sisi manusia yang penuh dengan kelupaan dan kesalahan muncul, jadilah sang manusia menjadi sebuah multiplexer yang memilih antara register kebaikan atau kenistaan. Ketika sang manusia kuat dan bersabar untuk tidak menuruti hawa nafsunya, maka masuklah masukan 1 pada select-nya, sehingga bertahan dan kuatlah sisi kebaikannya. Namun jika sebaliknya, maka masuklah masukan nol pada selectnya, sehingga berujung pada kenistaan dan kehampaan. Sebuah kesenangan semu yang terkadang sering dikejar manusia, namun semakin dikejar, semakin kencang dia berlari, menjauh hingga berujung pada siksaan. Maksiat….
Sahabat, setiap manusia punya kesalahan. Setidaknya itu yang terjadi pada temanmu ini. Terkadang kebodohan dan kelemahan menyelimuti diri, sehingga melupakan kerasnya siksa dan indahnya nikmat bagi orang yang bersabar.
Sahabat, maafkan diri ini karena tidak bisa menjadi muslim yang sepurna, atau bahkan mencapai batas standar. Diri ini masih begitu kotor dan hina. Seandainya Allah yang Maha Melindungi tidak menutupi segala kekurangan yang ada di dalamnya, tentulah temanmu ini tiada lebih dari seonggok bangkai dan rongsokan.
Sahabat, jika kalian bisa meluangkan waktu 7-15 detik dalam doa kalian, tolong sempatkan waktu untuk ikut mendoakan sahabat-sahabatmu yang lain, karena niscaya doa itu akan kembali kepadamu.
Doakan, agar sahabatmu bisa bersabar dalam melalui proses untuk menjadi muslim sejati. Doakan, agar sahabatmu tidak mati dalam kehinaan, karena temanmu ini begitu banyak dan besar dosanya. Doakan agar kita semua bisa bertemu di surga, bercengkrama, dan bercanda, karena temanmu ini sungguh tidak pantas memasukinya.
Sahabat, doa temanmu selalu bersamamu.
Tiada kata yang patas diucap, setelah apa yang telah diperbuat, selain… maaf. Maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan.
Astagfirullah ya Allah… Janganlah engkau condongkan diri ini seperti orang munafik.
Kisah Dari Negri Yang Menggil
By : Abdurahman Faiz
Taken from: Bunga rampai seri 11
untuk adinda: Khaerunisa
Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil
Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar
: aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?
Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi
Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri
: sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?
Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong
Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku
Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli
: aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?
Tolong bangunkan aku, adinda
biar kulihat senyummu
katakan ini hanya mimpi buruk
ini tak pernah terjadi di sini
sebab ini negeri kaya, negeri karya
Ini negeri melimpah, gemerlap
Ini negeri cinta
Ah, tapi seperti duka
aku pun sedang terjaga
sambil menyesali
mengapa kita tak berjumpa, Adinda
dan kau taruh sakit dan dukamu
pada pundak ini
Di angkasa layang-layang hitam
semakin membayangi
kulihat para koruptor
menarik ulur benangnya
sambil bercerita
tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya
Aku putuskan untuk tak lagi bertanya
pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi
: aku memang sedang berada di negeriku
yang semakin pucat dan menggigil
Sebuah Renungan Diri
Very nice story
Taken from: bunga rampai seri-12
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi di zaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah? Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi.
Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
* * *
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu, Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
--------------------------------------
"Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras. Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya? Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan. Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.
Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita. Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."
--------------------------------------
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya. Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu.
Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya. Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya. Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali.
Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan. Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.
(Author Unknown)
Alhamdulillah sedang sakit nih...
Kalau ditanya apa kabar hari ini? Jawabnya apa ya?? Kalau saya mungkin “Alhamdulillah akhi… 2 hari ini ane lagi terserang flu nih”. Lho? Lagi sakit kok malah Alhamdulillah?? Aneh ya…
Ya…tapi memang kenyataannya 2 hari ini memang baru kurang enak badan. Kalo ditebak-tebak keliatannya sih flu, tapi ga tau yang bener apa, cz belum sempet kedokter nih. Tapi yang pasti, rasanya meriang gitu deh, badannya ga enak, rasanya haus terus, dan tenggorakan terasa panas…Kalo tandanya kaya gini, kata orang sih indikasinya flu. Mungkin bener ya…(Lho2 k’ malah ngelantur gini??)
Back to the problem… sakit kok malah berucap Alhamdulillah? Setiap sakit, saya jadi inget yang pernah diucapkan oleh murrabbi pertama saya, waktu lagi sakit. Kalau ditanya gimana kabarnya, pasti jawabnya, “Wah Alhamdulillah sedang sakit nih, sedang diampunin dosanya, hehe”. Muncul dengan ekspresi panas dingin sambil ceng’engesan malah keliatannya jadi lucu… Astagfirullah, orang sakit kok malah diketawain. (Hehe, afwan ya akh ^_^)
Tapi kalau dipikir-pikir bener juga, cz beliau ga asal ngomong lho. Dasarnya hadist, kalau ga salah bunyinya “Tidaklah seorang muslim yang ditimpa ujian dari Allah, melainkan dosa-dosanya sedang diampuni”. Afwan kalo kata-katanya kurang pas dan ga ada riwayat dan kualitas sanadnya. Cz hafalan hadist saya agak kurang, tapi insyaAllah kira-kira kata-katanya seperti itu. (kalau ada akhi ukhti yang tau riwayat dan kualitas sanadnya, atau mungkin kata-kata yang lebih tepat, tolong diluruskan ya…syukron)
Ok,ok, balik lagi kemasalah… Wah-wah, kalo gitu seharusnya setiap orang yang kena musibah harusnya bersyukur dong… Yo’i bener bgt tuh. Cz Allah lagi mencuci diri kita, dan dibersihin dari dosa. Daripada dicucinya di neraka (na’udzubillah), mending di dunia. Iya kan??
He2, sebenarnya ini hanya ungkapan isi hati (bukan keluh kesah lho, Insya Allah). Untuk setiap sahabat-sahabat yang lagi sakit atau ditimpa musibah, yuk kita bersyukur. Semoga dengan ujian dan sakit yang kita hadapi, dapat membersihkan diri dari dosa. Jangan lupa diiringi istigfar dan banyak minta maaf sama orang lain, biar dosanya bener-bener diampuni, Insya Allah ;)
Cup, cup, cup… jangan sedih gitu dong… I’ll be your shoulder to cry on deh(ce’ilee…he). Tapi khusus ikhwan n’ muhrim lho, (Idiih GeEr!! Emangnya ada akhwat yg mau nyender sama dikau ya. Idih…GeEr!!)
Assalamu'alaikum DUNIA!!
Assalamu'alaikum...
Halo-halo...
Good morning...
Good afternoon....
Good evening...
Ohayo...
Konichiwa...
Konbanwa...
(g tw lagi)
Mohon doanya...
Semoga blog ini bisa menjadi sarana da'wah dan ilmu bagi seluruh khalayak dunia....
Every people in the world...I'm coming!!